Aku Seiran, seorang pemuda berumur 16 tahun yang pendiam, sedang duduk di bangku taman sekolah, memegang sebuah buku catatan bercover hitam. Aku tengah membaca catatan-catatanku di masa lalu, mulai dari juni, juli, agustus, september dan pada akhirnya sampai ke bulan ini, November. ‘Novembr’, nama bulan ini entah kenapa selalu saja berbaur di antara masalah-masalah yang ada di pikiranku, seakan menambah daftar masalah yang tersendat, menunggu untuk di selesaikan.

WUSSSHHHH

Spontan aku menengok ke arah kanan, ke arah angin itu berhembus. “Lagi dan lagi,” gumamku heran. Hampir setiap –mungkin memang setiap hari aku mengalami, mendengar dan melihat angin berhembus dengan tiba-tiba dekat dengan dirinya, seakan ada orang yangsengaja menghembuskannya demi mencari sensasi. “Keanehan ini seakan menunggu untuk dituntaskan. Aku tak kunjung mengerti atas mau anak itu,”

Seorang anak terus menangis. Anak perempuan, memakai gaun putih panjang lusuh. Ia selalu datang setiap malam ke kamarku, terduduk di pojok ruangan dekat meja belajarku. Menangis tak kunjung henti, seakan ia meminta pertolongan akan diriku. Aku telah berkali-kali memberanikan diri, bahkan sampai akhirnya aku tak takut lagi mendekati gadis kecil itu. Tapi… Aku tak mengerti apa yang terjadi padanya. Kulitnya terasa dingin ketika kumenyentuhnya. Dan setiap aku menyentuhnya, ia hanya menatap kepadaku, dengan air mata yang masih mengalir dari matanya. Tatapan dari mata hitamnya begitu sendu, membuatku terhenyak dan ingin memeluknya, mendekapnya.

Suara bel sekolah membuatku bangun dari lamunanku. Dengan cepat aku memungut pensil dan pulpenku yang tanpa kusadari terjatuh dan tak lupa buku catatanku, berlari ke arah pintu masuk. Saat aku tengah berjalan, aku merasakan sepasang mata sedang melihatku. Aku membalikkan tubuhku beberapa saat dan menangkap sosok gadis itu –lagi. Ia masih memakai gaun putih lusuh yang sama sambil memegang sebuah boneka beruang yang sudah rusak dan sama menyeramkannya dengan sadako di film-film horor. Lagi-lagi tatapan itu, tatapan yang sama sekali tak ingin kulihat. Aku mencoba tak memperdulikan gadis kecil itu dan pergi, berlalu ditelan ambang pintu.

= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =

“Dimana… Dimana gaunku?” Aku tersentak, terbangun dari tidurku. Mimpi itu lagi. Gadis itu… Kenapa? Apa yang ia mau? Kenapa setiap malam ia selalu datang dan menggangguku? Tak lama, suara seseorang menangis terdengar bergema. Kegelapan malam menyelimutiku, membuat suasana aneh ini terus berlanjut. Aku menengok ke arah suara lirih itu. Anak itu lagi. Aku memejamkan mataku sesaat, berharap ketika aku membuka mataku, sosok itu akan pergi dengan segera. Ia masih di sana. “Carikan gaunku… Dimana gaunku?” ucapnya pelan sambil merintih. “Sudah sekian kali aku bilang, gaunmu tak ada di sini!” bentakku agak kesal. Aku benci jika anak ini terus-terusan berada di kamarku setiap malam, menanyakan dimana gaunnya.

Tapi di sisi lain, aku iba melihatnya menangis terus-menerus dan menatapku dengan sendu. Ia masih terisak. Dengan lemah ia mendongak, menatap mataku dengan dalam. “Aku mohon…” ucapnya sedih. Aku bisa melihatnya menggigit bibir bawahnya. Sedangkan air matanya masih saja mengalir, menuju pipi dan akhirnya jatuh ke lantai. Aku makin merasa kasihan padanya. Aku ikut menggigit bibir bawahku dan menjatuhkan diri ke lantai, menjajarkan diri dengan dirinya. “Aku sungguh tak mengerti apa maumu. Kenapa kau meminta gaunmu padaku?” ucapku pelan. Aku tak ingin membuatnya takut untuk bicara yang sebenarnya. “Gaun itu… Dibelikan mamaku…” ia berhenti sesaat untuk melanjutkan tangisannya. Ia masih terisak, bahkan belum bisa tenang. Lalu, ia pun melanjutkan penjelasannya, “Saat kebakaran 5 tahun lalu… Gaun itu hilang di sini… Di rumah ini…” Aku terkejut, heran. Mengapa ia bisa tahu soal kebakaran 5 tahun lalu itu? Apa mungkin… Ia salah satu orang yang mati terbakar saat insiden itu terjadi?

Saat aku memberanikan diri untuk bertanya, aksiku dihentikan oleh penjelasan gadis itu yang terus berlanjut, “Gaun itu dicuri… Aku… Aku ingin gaun itu kembali!” ia kembali menangis, menutupi wajahnya dengan tangannya, kembali terisak. Aku ingin sekali memeluknya, sosok kecilnya itu. Dengan ragu-ragu aku menjulurkan tanganku dan meletakkannya di kepalanya, membelai rambut hitamnya yang dingin dengan pelan. Aku berkata dengan pelan, “Aku akan mendapatkannya kembali. Kembalilah lagi nanti…”. Senyuman tipis tersungging di bibirku. Perlahan, sosok itu lenyap tepat di depan mataku. Lenyap bagaikan asap dari cerobong di rumahku.

Minggu demi minggu berlalu, dan gadis kecil yang ternyata bernama Elize itu tak kunjung kembali. Apa ia tahu bahwa gaunnya sampai saat ini belum kutemukan? Aku sudah bertanya pada ayahku soal kebakaran 5 tahun yang lalu itu. Kata ayahku, 4 anggota keluarga Verlie itu tak ada yang selamat. Ibunya, Charel, ayahnya, Vincent, kakak laki-lakinya, Joshua dan Elize, semuanya terbakar hidup-hidup. Dan yang lebih mengherankan lagi, ia bilang bahwa semua harta dari mereka tak ada yang selamat, semuanya hangus menjadi abu. Lalu, apa maksud Elize bahwa gaun miliknya dicuri?

– Bersambung –

Iklan